Scroll untuk baca Berita
Call Us banner 325x300
Gaya HidupOpiniPolitik

Achievement Society: Sebuah Pengantar Singkat Psikopolitik Byung-Chul Han

1169
×

Achievement Society: Sebuah Pengantar Singkat Psikopolitik Byung-Chul Han

Share this article
Achievement Society Sebuah Pengantar Singkat Psikopolitik Byung-Chul Han, foto:(Ilustrasi/wikimedia)

“Saya sedang berusaha untuk mendapatkan Bugatti, Saya pasti akan melambaikan tangan kepada anda dari mobil ini saat anda berada di pinggir jalan dengan waktu luang anda. Dan tentu saja, saya mengerti bahwa meluangkan waktu untuk refleksi moral itu penting, tetapi anda tidak perlu menjadi Socrates untuk memahami dasar-dasar bagaimana memperlakukan orang lain.

Jangan menjadi orang yang brengsek. Jaga tanggung jawab anda. Ini bukan misteri alam semesta. Pemahaman moral dasar ini sudahlah cukup, dan begitu anda menguasainya, hambatan terbesar yang anda hadapi akan terpecahkan dengan meningkatkan nilai pasar anda. Begitulah cara kerja masyarakat, dan itulah yang akan saya lakukan.”

Namun, dari sudut pandang Byung-Chul Han, seseorang dapat menjawab, “Oke, saya mengerti, anda mendorong diri anda sendiri ke tingkat tertinggi. Tidak ada yang mengatakan untuk tidak bekerja keras atau bermalas-malasan adalah hal yang dapat diterima.

Tetapi ada yang lebih penting dalam hidup ini daripada sekadar produktivitas dan efisiensi. Sangat mungkin untuk terjebak dalam pengoptimalan diri yang narsis ini sehingga anda mulai merasakan efek negatif dari pengabaian aspek-aspek lain dalam hidup. Kemudian, alih-alih menyadari hal itu, anda malah menyalahkan perasaan anda pada tantangan kehidupan modern yang tak terelakkan.

‘Oh, saya tidak punya teman karena sulit untuk mendapatkan teman di dunia sekarang ini. Saya tidak punya pasangan karena saya terlalu fokus pada karier. Saya berselisih dengan orang-orang di dunia maya karena ada begitu banyak orang yang tidak tahu apa-apa di luar sana. Namun, bukan suatu kebetulan jika seseorang yang mengendarai Bugatti tersebut hanya memiliki banyak hubungan yang dangkal, pemikiran yang sempit tentang cara memperlakukan orang lain, atau pemahaman yang terbatas tentang bagaimana dunia ini bekerja.

Seseorang mungkin berkata, ‘Tentu, anda bisa melambaikan tangan kepada saya dari Bugatti anda ketika saya sedang berada di dalam kebun, tetapi saya pasti akan membalas lambaian tangan anda, sendirian di dalam mobil anda, mengumbar omong kosong konspiratif yang anda anggap sebagai pandangan dunia, sambil memperlakukan orang lain seolah-olah anda masih duduk di bangku sekolah dasar. Anda benar, anda tidak perlu menjadi Socrates, merenungkan moralitas sepanjang hari untuk menjalani kehidupan yang baik. Namun kenyataannya, orang tersebut bahkan tidak menyadari bahwa mereka kehilangan kedalaman yang tersedia dalam hidupnya. Mereka akan pada akhirnya menyadarinya, jika hanya ketika mereka menghabiskan sedikit waktu untuk berbicara dan lebih banyak waktu untuk berpikir.”

Penulis: Naufal Al Harist – Psikologi – Universitas Negeri Malang (FPsi UM)