Seketika.com, Jakarta – Dunia tengah menghadapi krisis iklim yang semakin nyata dan mengancam. Dalam laporan terbaru, dilaporkan bahwa sekitar satu miliar metrik ton es telah berkurang setiap 40 jam. Fenomena ini telah meningkatkan permukaan laut global karena suhu yang terus naik.
Penelitian menunjukkan bahwa lapisan es di Bumi menipis dari bawah, sebuah proses yang terjadi jauh lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Satelit telah menangkap perubahan drastis ini dari luar angkasa, namun beberapa perubahan terbesar sebagian besar tidak terlihat karena terjadi di bawah permukaan. Lapisan es yang menipis menekan dan mengukir tanah selama ribuan tahun saat es meluncur.
Es menampung lebih dari tiga perempat air tawar dunia. Ketika mencair, ini dapat mengancam kehidupan dan mata pencaharian miliaran orang. Lebih dari sepertiga umat manusia hidup dalam jarak 60 mil (100 kilometer) dari garis pantai. Suhu yang lebih hangat mencairkan es padat menjadi air cair yang mengalir ke laut, sementara lautan yang memanas menyebabkan air mengembang. Kedua faktor ini mendorong kenaikan permukaan laut lebih tinggi.
Menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), 30 tahun ke depan dapat menyebabkan kenaikan air laut di pesisir Amerika Serikat sebanyak yang terjadi pada abad lalu, sekitar 10 hingga 12 inci (25 hingga 30 cm).
“Pada tahun 2050, banjir diperkirakan akan terjadi lebih dari 10 kali lebih sering daripada hari ini,” kata Nicole LeBoeuf, direktur layanan laut nasional NOAA, dalam siaran persnya. “Angka-angka ini berarti perubahan dari satu peristiwa setiap 2-5 tahun menjadi beberapa peristiwa setiap tahun di beberapa tempat,” sambungnya.
Mencairnya es laut tidak mengubah jumlah keseluruhan air di lautan, namun es laut yang mencair mempercepat pemanasan dengan menyerap lebih banyak panas matahari. Ini juga berkontribusi pada ekspansi termal air, yang dapat menaikkan permukaan laut.
Lapisan es di Antartika dan Greenland memainkan peran penting dalam mengatur iklim global. Di Antartika, lapisan es rata-rata setebal 1,5 mil (2,4 km) dan mencapai hingga 3 mil (5 km) di beberapa daerah. Lapisan es Greenland rata-rata memiliki ketebalan satu mil. Ketika es darat mencair dan menciptakan lapisan es mengambang, ini mempercepat aliran gletser ke laut.
Dilaporkan oleh YouTube “Kok Bisa?”, setiap 40 jam, Antartika kehilangan satu miliar metrik ton es, dan setidaknya setengahnya berasal dari lapisan es. Studi pada 2018 menemukan bahwa Antartika telah kehilangan 2,71 triliun ton es. Di Kutub Selatan, perairan yang lebih hangat di kedalaman Samudra Selatan bersentuhan dengan bagian bawah rak es, menyebabkan pencairan.
Penelitian terbaru di Geophysical Research Letters menemukan bahwa rak es yang mencair dari bawah cenderung memiliki permukaan yang lebih kasar. Mengukur kekasaran permukaan rak es bisa menjadi cara untuk mengukur pencairan basal yang terjadi jauh di bawah.
Greenland, rumah bagi lapisan es terbesar kedua di Bumi, juga mencair dengan cepat. Kehilangan es di Greenland berbeda dari Antartika dalam hal-hal penting, namun dampaknya sama-sama mengkhawatirkan.