Dahulu, Blok Masela dimiliki masing-masing Inpex Masela (65 persen) dan Shell (35 persen). Namun seiring waktu, blok itu mengalami kondisi jalan di tempat selama 25 tahun.
Kemudian Shell memutuskan keluar dari blok itu pada 5 Jui 2020. Shell beralasan, proyek migas itu kurang kompetitif dibandingkan dengan portofolio proyek Shell di negara lain.
Tiga tahun sejak keputusan Shell untuk keluar dari Blok Masela, tepatnya pada Selasa (25/7/2023) akonsorsium Pertamina-Petronas Sdn Berhad dan Shell mencapai kesepakatan sales and purchasing Agreement (SPA) untuk pelepasan saham 35 persen atau senilai USD650 juta setara dengan Rp9,75 triliun (asumsi kurs Rp15.002 per dolar AS).
Dengan adanya SPA itu, Inpex Masela tetap menguasai 65 persen saham. Sedangkan 36 persen saham sisanya dimiliki masing-masing Pertamina melalui PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebanyak 20 persen hak partisipasi Blok Masela, sementara Petronas 15 persen.
Tuntasnya divestasi Shell Abadi Masela tentu patut disyukuri, sama sepertinya diungkapkan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di sela-sela agenda IPA Convex, BSD Tangerang, Selasa (25/7/2023). “Divestasi Shell sudah tuntas. Alhamdulillah. Berikutnya, kami harapkan proyeknya segera jalan lagi,” ujar Dwi Soetjipto.
Tidak terlalu lama setelah divestasi Blok Masela tuntas, berikutnya Kementerian ESDM mengumumkan pemenang lelang tiga wilayah kerja (WK) Akia, WK Beluga, dan WK Bengara pada Kamis (27/7/2023).